Rahma02′s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Archive for November, 2007

MA’RIFATULLAH

Posted by rahma02 pada November 29, 2007

Posted in Akidah | Leave a Comment »

MIKROPANGAN TGL 13 NOP 07

Posted by rahma02 pada November 16, 2007

KONTROL MIKROORGANISME PADA MAKANAN

Metode yang digunakan untuk mengeliminasi mo perusak dan patogen pada makanan adalah:

 

1)   Mengontrol jalan masuk mo pada makanan

 

 

2)   Menghilangkan/membersihkan mo yang ada pada makanan secara fisik

3)   Mencegah atau mengurangi pertumbuhan mo dan perkecambahan spora pada makanan

 

4)   Membunuh sel-sel mikroba dan spora pada makanan

 

Berikut adalah metode untuk mengontol atau mengawetkan makanan dari mo:

 

1) Mengontrol jalan masuknya mo (membersihkan dan sanitasi)

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam metode ini adalah potongan tanaman, kualitas air, kualitas udara, memperhatikan sanitasi dan hygienis pribadi, mengadakan pelatihan terhadap hal tersebut, kebersihan peralatan dan fasilitas-fasilitas lain pada proses pengolahan, serta memperhatikan standar, spesifikasi, dan garis pedoman, atau batasan mo yang masih diperbolehkan secara mikrobiologi, dan sanitasi makanan yang dilakukan secara fisika-kimia, seperti:

 

- menggunakan Chlorine yang cepat berpengaruh terhadap semua jenis mo, biaya murah, dan mudah digunakan.

 

- Iodophore merupakan senyawa aktif yang dikombinasi dengan iodine di permukaannya seperti alkylphenoxypolyglycol

 

- Quaternary Ammonium Compounds (QACs) digunakan sebagai detergen pembersih

 

- H2O2 yang sangat efektif sebaai germisida dan membunuh sel vegetatif, spora, dan virus

 

2) Kontrol secara fisik

meliputi: sentrifugation, filtration, trimming, and washing

 

3) Kontrol dengan pemanasan

Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah makanan alami, mo alam, dan proses alam

 

Metode yang digunakan adalah pasteurisasi (pemanasan dengan suhu <1000C), pemanasan makanan makanan dengan suhu tinggi (>1000C), dan pemanasan dengan microwave

 

4) Kontrol dengan temperatur rendah

 

Faktor yang mempengaruhi adalah makanan alami, mo alam, dan proses alam.

Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan es pendingin (0&10C), pendinginan dengan temperatur khusus (4-50C), dan pembekuan dengan freezer (-200C)

 

5) Kontrol dengan mengurangi Aw (Activity water)

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi: proses alam, makanan alami, dan mikroorganisme alam

Metode yang digunakan:

  1. Dehidrasi secara alami
  2. pengeringan secara mekanik
  3. Pengeringan dengan pembekuan
  4. pengeringan disertai pengocokan sampai berbuih
  5. Pengasapan
  6. Menurunkan kelembaban makanan 10-40%

 

6) Kontrol dengan pH rendah dan asam organic

Faktor yang mempengaruhi:

Asam organik alami (acetic acid, propionic acid, lactic acid, citric acid, sorbic acid, benzoic acid, dan parabens), makanan alami, mikroorganisme alam.

 

7) Kontrol dengan modifikasi atmosfer (mengurangi potensial O-R)

 

Faktor yang mempengaruhi: proses alam, makanan alami, mikroorganisme alam

Metode: pengemasan dalam ruang hampa (vakum) dan pembilasan dengan gas

8) Kontrol dengan anti mikroba

 

 

Bahan pengawet yang digunakan sebagai antimikroba, yaitu:

  1. Nitrite (NaNO2 dan KNO2)
  2. Sulfur Dioxide (SO2) dan Sulfites (SO3)
  3. H2O2
  4. Epoxides (Ethylene Oxide, Propylene Oxide)
  5. Acids
  6. Parabens
  7. Bacteriocins of lactic acid bakteria
  8. Diacetyl
  9. CO2
  10. Butylated Hydroxyanisol (BHA), Butylated Hydroxytoluene (BHT), dan t-Butyl Hydroquinone (TBHQ)
  11. Chitosan
  12. Ethylenediaminetetraacetate (EDTA)
  13. Lysozyme
  14. Monolaurin (Glycerol monolaurate)
  15. Antibiotik (Tetracyclines, Natamycin, dan Tylosin)
  16. Kayu asap
  17. Rempah-rempah

 

9) Kontrol dengan penyinaran

 

        Metode yang digunakan: Dosis/besarnya radiasi (satuan:rad), dan Perlakuan khusus,seperti:

    - Radurisasi (radiasi dengan pasteurisasi)

    - Radisidasi

    - Radappertisasi

    - Arus yang baik

    - Radiasi sinar UV

     

    10) Kontrol dengan tekhnologi baru

     

    Metode yang digunakan:

    1. Menggunakan microwave dan frekuensi radio
    2. Pemanasan ohmic dan induktif
    3. Pulsed Elektric Fields (PEF)
    4. High-Pressure Processing (HPP)
    5. Tekhnologi dengan pengaturan cahaya
    6. Oscillating magnetic Fields (OMF)
    7. Ultrasound
    8. Tegangan tinggi diberhentikan
    9. Menggunakan sinar-X

     

    11) Kombinasi semua metode

      1. Proses pemanasan dengan suhu rendah
      2. Penyimpanan pada suhu rendah

      3. pH rendah

      4. Aw rendah

      5. Modifikasi atmosfer

      6. Bahan pengawet

      7. Proses tekanan hidrostatik

    (penjelasan masing-masing akan diberikan dilain waktu.jadiiiiiiiiiiiiiiii SELAMAT MEMBUKA TERUS WEB INI,TUNGGU MATERI KULIAH BERIKUTNYA HINGGA MID MIKROPANGAN TIBA!!!)

    Posted in Biologi | Leave a Comment »

    VIRO (KULTUR SEL &PERTUMBUHAN VIRUS)

    Posted by rahma02 pada November 10, 2007

    Materi kuliah tgl 1 November 2007

    KULTUR SEL DAN PERTUMBUHAN VIRUS

    Metode Kultur Sel

    Virus dapat diperbanyak dengan melakukan kultur sel yaitu menumbuhkan sel yang terinfeksi virus secara invitro.
    Perbanyakan sel dilakukan di atas tabung gelas atau flask (labu plastik) dengan ukuran yang beragam sesuai kebutuhan atau di dalam bejana yang luas. Tekhnik ini dilakukan secara aseptis untuk menjaga agar kultur bebas dari kontaminasi jamur dan bakteri. Suspensi sel tunggal yang diketahui konsentrasinya ditumbuhkan ke dalam flask steril dengan media yang sesuai, kemudian diinkubasi pada suhu yang sesuai (biasanya 370C) dengan posisi mendatar. Sel akan melekat pada permukaan dan mulai bereplikasi membentuk sel monolayer (satu lapis) yang saling berikatan satu dengan lainnya. Setelah beberapa hari medium yang digunakan untuk pertumbuhan dan metabolisme sel akan habis, dan jika tidak diganti maka sel akan mengalami kerusakan dan akan mati. Sel monolayer diberi perlakuan dengan tripsin dan atau larutan versene untuk mendapatkan sel tunggal. Sel ini kemudian ditumbuhkan pada flask yang baru. Sel monolayer digunakan untuk menumbuhkan dan menguji beberapa aspek interaksi virus dengan inang. Selain untuk menumbuhkan sel monolayer, beberapa tipe sel juga dapat ditumbuhkan di dalam larutan dimana sel tersebut tidak menempel pada permukaan flask dan tidak menempel satu dengan lainnya, misalnya sel hibridoma yang mengsekresikan antibodi monoklonal.

    Media dan Buffer

    Kebanyakan media pertumbuhan yang digunakan merupakan media kimiawi, tetapi ditambahkan dengan serum 5-20% yang mengandung stimulan yang penting untuk pembelahan sel. Media yang bebas serum dengan tambahan stimulan tertentu digunakan untuk beberapa tujuan. Media mengandung larutan garam isotonis, asam amino, vitamin, dan glukosa, sontohnya Eagle’s Minimal Esential Medium (MEM) yang diformulasikan oleh Eagle th 50-an. Selain mengandung serum, MEM juga diperkaya dengan antibiotik (biasanya penicillin dan streptomycin) untuk membantu mencegah kontaminasi bakteri. Umumnya pertumbuhan sel yang baik terjadi pada pH 7,0-7,4. Media juga ditambah fenol red sebagai indikator pH yang akan berwarna merah pada pH 7,4, orange pH 7,0, dan kuning pH 6,5, kebiru-biruan pH 7,6 dan ungu pH 7,8.

    Media tumbuh juga membutuhkan penyangga di antara dua kondisi, yaitu:
    1) penggunaan flask terbuka menyebabkan masuknya O2 dan meningkatnya pH
    2) Konsentrasi sel yang tinggi menyebabkan diproduksinya CO2 dan asam laktat menyebabkan turunnya pH.
    Kedua kondisi ini dihadapi dengan dengan memberikan buffer ke dalam media dan ke dalam inkubator dialirkan CO2 dari luar. Buffer yang biasanya digunakan adalah sistem bikarbonat-CO2, sehingga ke dalam media pertumbuhan ditambahkan larutan bikarbonat. Reagent yang digunakan di dalam media dan kultur sel harus disterilisasi dengan autoclave (uap panas), hot-air oven (panas kering), membrane filtration, atau diirradiasi untuk peralatan plastik.

    Pertumbuhan Virus di dalam Kultur

    Kebanyakan penelitian dalam virologi dilakukan dengan menumbuhkan virus di dalam suatu kultur, mekipun saat ini banyak penelitian yang dilakukan seluruhnya bersandarkan pada gen yang dikloning dan protein yang diekspresikan di luar kultur sel. Virus yang dapat tumbuh di dalam kultur dapat dipelajari lebih detail. Ketidakmampuan untuk tumbuh secara in vitro sangat membatasi kemajuan penelitian, misalnya pada penelitian produksi vaksin dan pengembangan obat-obatan anti virus untuk hepatitis B dan C.

    Virus ditumbuhkan di dalam kultur bertujuan untuk mendapatkan stock virus. Virus yang telah diremajakan disimpan pada suhu -700C dan disebut sebagai master-stock, sub master stock, dst., tergantung pada jumlah peremajaannya.

    Virus stock ditumbuhkan dengan menginfeksikan sel pada multiplicity of infection (m.o.i) yang rendah, kira-kira 0,1-0,01 unit infeksi per sel. Virus melekat pada sel dan mengalami beberapa kali replikasi di dalam kultur sel. Setelah beberapa hari, virus dipanen dan media ekstraseluler di sekitar kultur sel atau dari sel itu sendiri yang telah lisis karena pembekuan dan pencarian (freezing and thawing) atau dilisis menggunakan cawan ultrasonik. Virus kemudian dihitung dengan infectivity assay.

    Jika diperlukan virus dengan jumlah yang banyak, misalnya pada pemurnian virus. Kultur sel diinfeksi dengan m.o.i yang tinggi, seperti 10 unit infeksi per sel. Hal ini menjamin bahwa semua sel akan terinfeksi secara bersamaan dan replikasi terjadi hanya satu kali dan virus segera dipanen pada akhir siklus replikasi. Sel yang terinfeksi menghasilkan progeni virus dengan kisaran 10-10.000 partikel virus per sel.

    Penggunaan Telur berembrio

    Untuk beberapa virus, kultur sel bukan merupakan pilihan tepat untuk menumbuhkan virus sehingga digunakanlah fertilized embrio ayam. Fertilized embrio memiliki berbagai membran dan rongga yang dapat mendukung pertumbuhan virus. Aliquot kecil dan virus diinokulasikan ke dalam rongga allantoic telur. Virus kemudian menempel dan bereplikasi di dalam rongga yang dihasilkan dan sel epitel. Virus kemudian menempel dan bereplikasi di dalam rongga yang dihasilkan dari sel epitel. Virus dilepaskan ke cairan allantoik dan dipanen setelah ditumbuhkan selama sekitar dua hari pada suhu 370C. Vaksin influenza diperbanyak dengan cara sama seperti ini.

    Berbagai contoh virus yang dapat ditumbuhkan secara kultur dan atau melalui embrio, antara lain:
    *Virus herpes simplex, dapat tmbuh pada bermacam-macam kultur dan pada membran chorio-allantoic
    *Virus Varicella-zoster, dapat tumbuh lambat dalam kultur sel manusia (jaringan kulit, paru-paru, dan otot embrio manusia), dan pada sel ginjal kera
    *Cytomegalovirus, dapat tumbuh lambat dalam kultur jaringan sel paru-paru embrio manusia
    *Virus Epstein-Barr, dapat tumbuh pada kultur suspensi dari limfoblas manusia
    *Virus influenza, dapat tumbuh pada kantung korioalantois telur berembrio

    Posted in Biologi | 5 Comments »

    MIKROBIOLOGI PANGAN

    Posted by rahma02 pada November 10, 2007

    Lanjutan Materi Kuliah ttg :

    “ Normal Microbiological Quality of Foods and Its Significance”

    1)  Daging mentah dan daging yang siap dimakan

    2)  Susu mentah (belum diolah) dan yang telah diolah (pasteurisasi)

    3)  Cangkang telur dan cairan telur

    4)  Ikan dan kerang-kerangan

    (No 1-4 telah disampaikan pada kuliah tanggal 31 oktober 2007)

    5)  Sayuran, Buah, dan Kacang-kacangan

    Bagian-bagian tanaman (sayur, buah, maupun kacang-kacangan) dapat terkontaminasi oleh banyak mikroorganisme (bakteri, jamur, yeast, protozoa, parasit, maupun pathogen lainnya) jika kondisi tempat tumbuh tersebut sesuai baginya.

    Tanaman dapat terkontaminasi oleh mikroorganisme karena mengandung karbohidrat, protein, maupun pH dan Aw yang sesuai untuk pertumbuhan mikroorganisme. Tanaman mumnya mengandung karbohidrat tinggi dan pH 5-7. Buah mengandung karbohidrat tinggi dan pH 4,5 atau dibawahnya, mengandung asam organic dan beberapa minyak essensial sebagai anti mikrobia. Kacang-kacangan melindungi kulitnya dengan Aw rendah (0,7).

    Mikroorganisme pada sayuran dapat berasal dari berbagai sumber, seperti tanah,air, udara, hewan, peralatan, maupun sumber lainnya tergantung dari tipe sayurnya.. Daun lebih banyak terkontaminasi oleh mikroorganisme dari udara, sedangkan umbi lebih banyak terkontaminasi dari tanah.

    Jumlah dan tipe mikrobia juga bervariasi, tergantung kondisi lingkungan dan kondisi pertanian, serta pemanenan. Sayur umumnya terkontaminasi 103-5 mo/cm2 atau 104-7 mo/g. Bakteri utama seperti bakteri asam laktat, Corynebacterium, Enterobacter, Proteus, Pseudomonas, Mocrococcus, Enterococcus, dan spora-spora lain. Bakteri patogen usus dapat masuk ke sayur, khususnya jika sampah, hewan, manusia, air yang tercemar digunakan untuk fertilisasi dan irigasi, yaitu: Lis.monocytogenes, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Clo. botulinum, dan Clo. Perfringens. Jamur yang mengkontaminasi sayur, seperti Alternaria, Fusarium, dan Aspergillus. Mikrobia dapat menyebabkan perbedaan tipe perkecambahan dan penyakit pada tanaman, seperti Listeriosis dan botulism. Mikrobia juga dapat digunakan dalam proses fermentasi alami pada sayuran, seperti sauerkraut oleh bakteri asam laktat.

    Buah-buahan juga dapat terkontaminasi oleh jamur, yeast, maupun bakteri. Mikroorganisme pada buah dapat berasal dari udara, tanah, insekta, dan peralatan panen. Buah umumnya mengandung 103-6 mo/g. Selama pemanenan dan pengolahan, patogen mampu bertahan, tumbuh, dan menyebabkan penyakit pada buah; perbedaan perkecambahan oleh jamur, yeast, dan bakteri; dan yeast dapat menghasilkan alkohol sebagai hasil fermentasi alami.

    Mikroorganisme pada kacang-kacangan dapat berasal dari tanah dan udara, air, alat, juga dapat berasal dari hal lain selama pengolahan. Kacang mentah dan kacang yang telah dimasak memiliki 103-4 mo/g dengan Bacillus dan spora Clostridium, Leuconostoc, Pseudomonas, dan Micrococcus.Jamur pada kacang dapat menghasilkan toksin, salah satunya micotoxin (seperti toksin yang dihasilkan oleh strain jamur Aspergillus flavus berupa aflatoksin).

    Posted in Biologi | 3 Comments »

     
    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.