Rahma02’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Shalat Bagi Seorang Astronut

Posted by rahma02 pada Oktober 8, 2007

Para fuqaha telah memahami bahwa tatkala Allah SWT mensyariatkan hukum bagi seorang mukallaf, Ia juga telah menetapkan sejumlah imarah (indikasi) yang menunjukkan kapan, dan dalam kondisi apa hukum tersebut dikerjakan atau dilaksanakan. Indikasi-indikasi (imarah) tersebut adalah sebab-sebab syar’iyyah dilaksanakannya sebuah hukum. Topik mengenai pelaksanaan hukum ini dikategorikan dalam pembahasan ahkaam al-wadli’y, dimana salah satu bagian dari ahkam al-wadl’iy adalah al-sabab (sebab).

Muhammad Abu Zahrah dalam kitab Ushul Fiqh-nya, hal. 56, menyatakan, “Sebab-sebab bukanlah termasuk bagian dari perbuatan seorang mukallaf. Akan tetapi, ia telah ditetapkan oleh Allah SWT sebagai tanda (imarah) untuk melaksanakan sebuah hukum, misalnya keberadaan waktu dijadikan sebab (al-sabab) bagi pengerjaan sholat; atau kondisi darurat sebagai sebab dibolehkannya memakan bangkai..dan sebagainya.”

Contohnya, sebab dikerjakannya sholat Dzuhur adalah tergelincirnya matahari. Dalam al-Qur’an dinyatakan:

“Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malan dan dirikanlah pula sholat Shubuh. Sesungguhnya sholat Shubuh itu disaksikan oleh para malaikat.” (Qs. al-Isrâ’ [17]: 78).

Dalam sebuah hadits dituturkan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

“Jika matahari telah tergelincir, maka sholatlah.” [HR. ath-Thabarani].

Dalam riwayat lain, Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya Rasulullah Saw mendirikan sholat Maghrib tatkala matahari telah terbenam dan bersembunyi dalam tirainya.” [HR. Imam Lima, kecuali an-Nasâ’i[/b]].

Dalam riwayat Muslim dinyatakan, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:

“Waktu Dzuhur ialah apabila telah tergelincir matahari hingga jadilah bayangan seseorang itu sama dengan panjangnya selama belum dating waktu ‘Ashar, dan waktu ‘Ashar itu selama belum kuning matahari dan waktu sholat Maghrib selama belum terbenam syafaq dan waktu ‘Isya’ hingga separuh malam dan waktu sholat Shubuh dari terbit fajar selama belum terbit matahari. Apabila telah terbit matahari, maka janganlah kamu mendirikan sholat, karena sesungguhnya matahari terbit itu diantara dua tanduk setan.” (Bulughul Maram: 36).

Namun demikian, waktu-waktu di atas hanya terwujud pada daerah-daerah yang ada di bumi saja, dan tidak pernah terwujud di sebuah lokal yang berada di luar bumi; misalnya bulan. Padahal, syara’ telah menetapkan waktu-waktu di atas sebagai sebab dilaksanakan sholat lima waktu. Jika sebab-sebab di atas tidak terwujud, tentunya sholat tidak bisa dilaksanakan oleh seorang muslim. Bukan berarti bahwa hukum sholat lima waktu telah berubah, akan tetapi sebab pelaksanaannya tidak terwujud, sehingga menghalangi seseorang untuk mengerjakannya.

Untuk itu, sholat tiga waktu, yakni Maghrib, ‘Isya’ dan Shubuh di kutub, dimana hampir setengah tahun siang, dan setengah tahunnya malam, tidak wajib dilaksanakan. Sebab, sebab dilaksanakannya ketiga sholat tersebut tidak pernah terwujud, yakni tergelincirnya matahari, terbenamnya matahari, dan terbitnya fajar tidak pernah terwujud.

Sebagian orang berpendapat bahwa sholat lima waktu tetap harus dikerjakan dimanapun saja berada, baik di kutub maupun luar angkasa meskipun sebab-sebab pengerjaannya tidak terwujud. Mereka mengetengahkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam Sunannya, tentang peristiwa datangnya Dajjal. Dalam hadits itu dituturkan, bahwasanya ketika Dajjal datang, satu hari seperti satu tahun. Lantas, para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bukankah anda menyatakan bahwa pada saat itu, satu hari sama dengan satu tahun, lantas apakah kami harus menghentikan sholat?” Rasulullah Saw menjawab, “Jangan, tapi perkirakanlah.” Hadits ini absah digunakan dalil atas wajibnya mengerjakan sholat di luar angkasa, dan daerah kutub, atau daerah-daerah yang “sebab-sebab” pelaksanaan sholat tidak terwujud.

Imam Fudlail bin ‘Iyadl berkata, “Ini adalah ketentuan hukum khusus pada hari itu saja, yang telah disyariatkan Allah atas kita. Seandainya tidak ada hadits ini, tentunya kami akan berijtihad untuk tidak mengerjakan sholat lima waktu pada hari itu.” Setelah menjelaskan komentar Imam Fudlail, Imam an-Nawawi berkata, “Maksud perkataan dari Rasulullah “perkirakanlah” pada hadits riwayat at-Tirmidzi di atas adalah, ‘Jika terbit fajar telah berlalu, maka perkirakanlah antara sholat Shubuh dengan sholat Dzuhur di setiap harinya, lalu kerjakanlah sholat Dzuhur.’ Begitu seterusnya….sampai hari itu berlalu.” (Imam an-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, juz 18/66).

Kita bisa memahami, bahwa para ‘ulama telah bersepakat jika sebab-sebab syar’iy dilaksanakannya sebuah hukum tidak terwujud, maka dengan sendirinya hukum tersebut tidak bisa dilaksanakan atau didirikan. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: