Rahma02’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Archive for Oktober 9th, 2007

Cinta Dunia, Takut Mati

Posted by rahma02 pada Oktober 9, 2007

Rasulullah Saw bersabda:

“Akan datang suatu masa, dalam waktu dekat, ketika bangsa-bangsa (musuh-musuh Islam) bersatu-padu mengalahkan (memperebutkan) kalian. Mereka seperti gerombolan orang rakus yang berkerumun untuk berebut hidangan makanan yang ada di sekitar mereka”. Salah seorang shahabat bertanya: “Apakah karena kami (kaum Muslimin) ketika itu sedikit?” Rasulullah menjawab: “Tidak! Bahkan kalian waktu itu sangat banyak jumlahnya. Tetapi kalian bagaikan buih di atas lautan (yang terombang-ambing). (Ketika itu) Allah telah mencabut rasa takut kepadamu dari hati musuh-musuh kalian, dan Allah telah menancapkan di dalam hati kalian ‘wahn’”. Seorang shahabat Rasulullah bertanya: “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan ‘wahn’ itu?” Dijawab oleh Rasulullah Saw: “Cinta kepada dunia dan takut (benci) kepada mati”. (At Tarikh Al Kabir, Imam Bukhari; Tartib Musnad Imam Ahmad, XXIV/31-32; “Sunan Abu Daud”, hadis No. 4279).
Baca entri selengkapnya »

Iklan

Posted in Renungan | Leave a Comment »

HUKUM JUAL BELI KUCING

Posted by rahma02 pada Oktober 9, 2007

SOAL : Bolehkah jual beli kucing? Ditinjau dari segi harga, sangat menggiurkan lho Ustadz… (Luqman, Solo)

JAWAB :

a. Pertimbangan Syar’iy (Halal Haram) Wajib Diutamakan Daripada Faktor Keuntungan (Manfaat)

Memang benar yang Saudara katakan, bahwa jual beli kucing memang cukup menggiurkan. Betapa tidak, pada tahun 1997, harga seekor kucing Persia anakan berumur tiga bulan dijual dengan harga antara Rp 500 ribu hingga Rp 900 ribu. Tapi meski harganya mahal, perlu diingat biaya pakan kucing Persia ini juga mahal. Setiap bulan, biaya pakan per ekor mencapai Rp 1.000.000 (“Berbisnis Dari Hobi Memelihara Kucing Persia”, http://www.republika.co.id, Rabu, 16 Oktober 2002).

Namun demikian, bagi seorang muslim, pertimbangan utama adalah halal haramnya sesuatu, bukan pertimbangan keuntungan yang menggiurkan. Apa artinya keuntungan yang banyak tapi Allah tidak meridhainya karena Allah telah mengharamkannya?

Baca entri selengkapnya »

Posted in Fiqh | 60 Comments »

MENGHADIAHKAN PAHALA BACAAN AL-QUR`AN

Posted by rahma02 pada Oktober 9, 2007

SOAL : Ustadz, bolehkah kita menghadiahkan bacaan al-Fatihah untuk Rasulullah SAW, atau untuk saudara-saudara kita baik yang sudah mati maupun yang masih hidup? (Idham, Majene, Sulsel)

JAWAB :

Ketika seseorang menghadiahkan pahala bacaan al-Qur`an kepada orang yang sudah mati, para ulama berbeda pendapat, apakah pahalanya akan sampai atau tidak. Imam Malik dan Imam Syafi’i berpendapat pahalanya tidak sampai. Sedangkan Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad berpendapat pahalanya sampai (Imam ad-Dimasyqi, Rahmatul Ummah, hal. 53; Imam Mubarakfuri, Tuhfat al-Ahwadzi, hadits no. 605; Imam Syamsul Haq-Abadi, ‘Aun al-Ma’bud, hadits. no. 2494)
Baca entri selengkapnya »

Posted in Dakwah | 3 Comments »

SHALAT BISA DIQADHA`?

Posted by rahma02 pada Oktober 9, 2007

SOAL :

Apakah shalat bisa diqadha`? Saya pernah dengar shalat bisa diqadha` dan jika tidak diqadha dosa kita akan terus berjalan sampai shalat diqadha. (Nur, 08568218553)

JAWAB :

Seluruh ulama sepakat bahwa mengqadha shalat itu wajib hukumnya bagi orang yang meninggalkannya karena lupa atau tertidur, sesuai hadits Nabi SAW : ”Barangsiapa tidur meninggalkan shalat atau lupa shalat, maka hendaklah ia mengerjakan shalat itu tatkala ia teringat. Tidak ada tebusan untuknya melainkan dengan mengerjakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). (Al-Masa`il Fiqhiyah (terj.), Mahmud Yunus, hal. 38).

Adapun yang meninggalkan shalat secara sengaja hingga waktu shalat habis, jumhur (mayoritas) ulama –dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali— berpendapat dia berdosa dan wajib atasnya qadha (Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, I/146; Hasbi Ash-Shiddieqy, Koleksi Hadits Hukum, II/33).

Baca entri selengkapnya »

Posted in Fiqh | Leave a Comment »

UPACARA BENDERA BOLEHKAH?

Posted by rahma02 pada Oktober 9, 2007

SOAL :

Ustadz, apa hukumnya ikut upacara bendera dan menjadi pembina upacara?

JAWAB :

Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada sebuah kaidah fikih yang mesti dipahami. Kaidah itu ialah “al-wasilah ila al-haram haram” (segala perantaraan yang membawa pada yang haram, hukumnya haram juga) (An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyah, III/440).

Kaidah fikih ini berarti, tatkala syariah mengharamkan sesuatu, maka syariah juga mengharamkan segala wasilah (perantaraan/jalan/sarana) yang kemungkinan besar (ghalabathuzh zhann) akan mengakibatkan munculnya sesuatu yang haram itu. Segala perantaraan itu hukumnya jadi haram, baik ia berupa perbuatan (al-af’aal) maupun benda (al-asy-yaa`), meskipun tidak terdapat nash syar’i khusus yang mengharamkannya.
Baca entri selengkapnya »

Posted in Fiqh | 1 Comment »

Menangis Yang Dianjurkan

Posted by rahma02 pada Oktober 9, 2007

Lazimnya, menangis dipersepsikan secara negatif sebagai perkara yang menunjukkan sikap lemah dan cengeng. Sehingga sering kita diberi nasihat: Sudahlah, janganlah menangis!

Namun ada menangis yang dianjurkan, hukumnya menurut syara adalah sunnah. Artinya, menangis yang membuat pelakunya dapat pahala. Apa itu: menangis karena takut kepada Allah dan tatkala ingat kepada-Nya.

Menangis karena takut kepada Allah disunahkan. Dalilnya adalah al-Qur’an dan as-Sunnah. Adapun dalil-dalil dari al-Qur’an antara lain:

Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’. (Qs. al-Isrâ’ [17]: 109).

Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (Qs. Maryam [19]: 58).

Adapun dalil dari as-Sunnah adalah:

• Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata; telah bersabda Nabi Saw kepadaku:

“Bacakanlah al-Qur’an untukku.” Wahai Rasul! Apakah aku harus membaca al-Qur’an untukmu, sedangkan al-Qur’an itu diturunkan kepadamu? Beliau Saw bersabda, “Aku sangat menyukai mendengarkan al-Qur’an dari orang lain.” Ibnu Mas’ud berkata; Maka aku membacakan al-Qur’an surat an-Nisâ’ untuk Rasul, hingga aku sampai pada ayat:
Baca entri selengkapnya »

Posted in Renungan | Leave a Comment »

MEMBUAT SEPATU DARI KULIT BABI

Posted by rahma02 pada Oktober 9, 2007

Soal :
Saya bekerja di pabrik sepatu kulit, dan sering berhubungan dengan kulit binatang. Apakah kulit binatang (babi) itu najis? (Edo, Bogor) semasi2@cbn.net.idsemasi2@cbn.net.id
Jawab :
Babi adalah binatang najis berdasarkan al-Qur`an dan Ijma’ para sahabat Nabi (Ijma’ush Shahabat) (Prof Ali Raghib, Ahkamush Shalat, hal. 33). Dalil najisnya babi adalah firman Allah SWT [artinya] : “Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi karena sesungguhnya semua itu kotor (rijsun).” (QS Al-An’aam [6] : 145)

Jika binatang itu termasuk jenis yang najis (babi dan juga anjing), maka semua bagian tubuhnya adalah najis, tidak peduli apakah dalam keadaan hidup atau mati. (Abdurrahman Al-Baghdadi, Babi Halal Babi Haram, hal. 47). Imam al-Kasani dalam kitabnya Bada’i’ush Shana’i` fii Tartib asy-Syara’i’ (I/74) mengatakan bahwa babi adalah najis pada zatnya dan babi tidak dapat menjadi suci jika disamak.

Memang, ada sebagian ulama seperti Yusuf al-Qaradhawi yang berpendapat bahwa kulit babi dan anjing pun akan menjadi suci jika sudah disamak. Dalilnya adalah hadits-hadits misalnya sabda Rasulullah SAW,”Kulit apa pun jika sudah disamak, maka sungguh ia menjadi bersih (suci) [Arab : ayyumaa ihaabin dubigha fa-qad thahura].” (HR Muslim).

Al-Qaradhawi mengatakan kata “kulit” (ihaab) dalam hadits Nabi tersebut mempunyai arti umum meliputi kulit anjing dan babi, sehingga kulit keduanya akan menjadi suci jika sudah disamak. Yang berpendapat demikian ialah mazhab Zahiri, Imam Abu Yusuf, dan diperkuat oleh Imam Syaukani (Yusuf al-Qaradhawi, Halal dan Haram dalam Islam (terj.), hal. 64).

Baca entri selengkapnya »

Posted in Fiqh | 3 Comments »

Kehidupan Setelah Kematian

Posted by rahma02 pada Oktober 9, 2007

Mungkin sebagian kita masih meragukan tentang kehidupan setelah kematian, bagaimana caranya Allah swt mengembalikan tubuh kita yang telah hancur didalam tanah. Serta mengembalikan ruh kita (dicabut dari tubuh saat kematian) bersatu kembali dengan tubuh kita. Begitu juga, betapa banyak manusia sangat ketakutan dalam menghadapi kematian dan berharap untuk hidup selamanya agar bisa menikmati dunia dan seisinya.

Kehidupan setelah kematian adalah hal yang mudah bagi Allah swt, semudah Allah swt menciptakan dari tiada menjadi ada. Dalam kehidupan dunia-pun kita bisa membuktikan adanya kebangkitan. Jika hidup dinegara yang mengalami pergantian musim, maka dapat disaksikan tumbuh-tumbuhan yang tadinya subur menjadi layu (kuning), berguguran dan pada akhirnya membeku selama musim dingin (bagaikan pohon yang mati). Lalu tibalah musim semi, udara menjadi hangat, dedaunan mulai tumbuh, kuncup bunga berkembang dan rerumputan tumbuh subur kembali.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Tausyiah | Leave a Comment »

PEMBIAYAAN BANK SYARIAH

Posted by rahma02 pada Oktober 9, 2007

SOAL :
Saya ingin bertanya tentang hukum meminjam uang ke bank syariah untuk usaha. Apakah pembiayaan seperti itu dibolehkan? Padahal, saya mendapatkan informasi bank syariah pun menerapkan “bunga” yang disebut dengan “margin“? (Lusi, Bogor)

JAWAB :
Memang ada kemiripan antara bunga bank konvensional dengan margin (laba) bank syariah. Tapi sifat dan prosesnya keduanya sangat berbeda sehingga keduanya tidak boleh disamakan.
Misalkan, nasabah meminjam ke bank konvensional Rp 1 juta untuk suatu usaha dengan perjanjian akan dikembalikan 4 bulan kemudian dengan bunga 10 %. Pada bulan keempat bank menerima pengembalian pinjaman Rp 1.100.000, yakni ada bunganya Rp 100 ribu.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Fiqh, Opini | 9 Comments »

Hukum Pidana Islam Sebagai Penebus & Pencegah

Posted by rahma02 pada Oktober 9, 2007

Allah SWT telah menetapkan hukum-hukum uqubat (pidana, sanksi, dan pelanggaran) dalam peraturan Islam sebagai “pencegah” dan “penebus”. Sebagai pencegah, karena ia berfungsi mencegah manusia dari tindakan kriminal; dan sebagai penebus, karena ia berfungsi menebus dosa seorang muslim dari azab Allah di hari kiamat.

Keberadaan uqubat dalam Islam, yang berfungsi sebagai pencegah, telah disebutkan dalam Al-Qur’an:
Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertaqwa. (QS. al-Baqarah [2]: 179)

Baca entri selengkapnya »

Posted in Dakwah | 3 Comments »