Rahma02’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

PEMBIAYAAN BANK SYARIAH

Posted by rahma02 pada Oktober 9, 2007

SOAL :
Saya ingin bertanya tentang hukum meminjam uang ke bank syariah untuk usaha. Apakah pembiayaan seperti itu dibolehkan? Padahal, saya mendapatkan informasi bank syariah pun menerapkan “bunga” yang disebut dengan “margin“? (Lusi, Bogor)

JAWAB :
Memang ada kemiripan antara bunga bank konvensional dengan margin (laba) bank syariah. Tapi sifat dan prosesnya keduanya sangat berbeda sehingga keduanya tidak boleh disamakan.
Misalkan, nasabah meminjam ke bank konvensional Rp 1 juta untuk suatu usaha dengan perjanjian akan dikembalikan 4 bulan kemudian dengan bunga 10 %. Pada bulan keempat bank menerima pengembalian pinjaman Rp 1.100.000, yakni ada bunganya Rp 100 ribu.

Bunga ini mirip margin bank syariah yang antara lain diterapkan dalam akad murabahah. Murabahah adalah menjual barang dengan harga asal ditambah laba yang disepakati penjual dan pembeli (M. Syafi’i Antonio, Bank Syariah, 1999:121). Misalnya nasabah ingin membeli TV seharga Rp 1 juta. Tapi karena nasabah tak punya uang kontan, dia lalu mengajukan pembelian TV itu dengan akad murabahah. Bank syariah membeli TV secara kontan seharga Rp 1 juta dari toko elektronik, lalu menjualnya kepada nasabah dengan harga Rp 1.100.000,-. Nasabah membayar secara angsuran dalam waktu 4 bulan. Jadi, margin bank syariah sebesar 10 % (senilai Rp 100 ribu).

Sekilas dua muamalah di atas sama, karena sama-sama menghasilkan keuntungan 100 ribu rupiah. Padahal, ada bedanya, sebab riba dan laba jual beli tidaklah sama. Riba merupakan tambahan yang diperoleh tanpa risiko kerugian dari pihak bank konvensional. Bank selalu berasumsi bahwa pihak peminjam selalu dan pasti (kudu) untung dalam usahanya. Sehingga bank konvensional merasa berhak memungut bunga. Padahal selalu ada risiko kerugian pada nasabah yang mengusahakan modal dari bank. Maka riba telah menyalahi kaidah fiqih berbunyi Al-ghurmu bil ghunmi (risiko kerugian itu diimbangi dengan hak memperoleh keuntungan) (Syaikh An-Nabhani, An-Nizham Al-Iqtishadi fi Al-Islam, hal. 187). Sedang pada jual beli, laba yang diperoleh merupakan imbangan dari kesediaan penjual menerima risiko kerugian. Sebab pada akad murabahah bisa saja barang yang sudah dibeli ternyata cacat atau rusak, atau nasabah tidak jadi membeli, sehingga bank syariah mengalami kerugian. Jadi, meski ada kemiripan, bunga dan margin tetap berbeda dalam sifat dan prosesnya.

Maka kami berpendapat, pembiayaan bank syariah seperti murabahah pada dasarnya mubah. Kecuali kalau didapati kasus tertentu yang menyalahi syariah, maka kasus itu dihukumi tidak sah. Misal dalam murabahah bank syariah tidak menjual barang, tapi hanya menyerahkan uang kepada nasabah. Nasabah lalu membeli barang bagi bank syariah dari toko elektronik (akad wakalah/perwakilan), lalu membeli untuk dirinya dari bank syariah (akad jual beli), dengan satu akad yang menyatu. Jika demikian faktanya, maka muamalah ini tidak sah, sebab terjadi dua akad (akad wakalah dan jual beli) dalam satu akad. Ini jelas dilarang syariah. Wallahu a’lam [ ]

Muhammad Shiddiq Al-Jawi

9 Tanggapan to “PEMBIAYAAN BANK SYARIAH”

  1. wida said

    Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh
    salam kenal pejuang syariah, bolehkan Q bergabung disitus k-mu? Boleh gak aku minta artikel tentang analisis pembiayaan murabahah (jual-beli) pada bank syariah? kenapa sektor konsumtif murabahah sekarang semakin banyak diminati di bank syariah. syukran atas jawabannya

  2. wida said

    Assalamualaikum wr wb
    salam kenal pejuang syariah. boleh gak aku bertanya tentang artikel yang membahas tentang analisis pembiayaan murabahah (jual-beli) bank syariah. mengapa murabahah konsumtif yang sektor non riil itu semakin banyak diminati oleh nasabah. apa ada kaitannya dengan kemudahan syarat-syarat permohonannya?

  3. Assalamualikum wr wb slam kebangkitan islam…sudah saatnya islam diterapkan secara keseluruhan dalam aspek kehidupan http://canaprasetya.wordpress.com/ YM: cana_chalipate

  4. rahma said

    w’alaikumsalam.wr.wb. salam kebangkitan islam juga……..

  5. ab said

    http://www7.indowebster.com/27dccb203c77f742f91d85a33c25e146.rar

  6. pepi said

    temen2 bisa kasih tau gak contoh perhitungan pembiayaan musyarakah dan mudarabah?
    makasih

  7. thing2think said

    Secara filosofis saya memahami ini dengan baik. Tapi secara teknis apakah selalu bisa dilakukan?

    Contoh kasus: saya ingin membeli komputer rakitan. Saya perlu datang sendiri ke toko komputer, memilih sendiri komponen2nya, bahkan menawar harga, dst… Harganya pun tidak bisa ditentukan sampai saya berada di toko dan merakitnya sendiri. Plus lagi, saya hanya punya waktu ke toko pada hari libur karena saya juga bekerja pada hari biasa… Bagaimana pihak bank mengakomodasi kasus seperti ini???

    Mohon pencerahannya. Karena saya sedang butuh komputer, namun ragu2 untuk mengajukan pendanaan ke bank syariah.

  8. imad said

    alhamdulillah bisa sharing.
    saya mau tanya juga unt sistem penghitungan akad2 dalam perbankan syariah.
    karena sering terjadi perdebatan antar teman saya tentang realita yg ada.
    kalau dari segi teori saiya sudah membaca di buku2 muamalah, tp saya memerlukan informasi tentang real dilapangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: