Rahma02’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

MENGHADIAHKAN PAHALA BACAAN AL-QUR`AN

Posted by rahma02 pada Oktober 9, 2007

SOAL : Ustadz, bolehkah kita menghadiahkan bacaan al-Fatihah untuk Rasulullah SAW, atau untuk saudara-saudara kita baik yang sudah mati maupun yang masih hidup? (Idham, Majene, Sulsel)

JAWAB :

Ketika seseorang menghadiahkan pahala bacaan al-Qur`an kepada orang yang sudah mati, para ulama berbeda pendapat, apakah pahalanya akan sampai atau tidak. Imam Malik dan Imam Syafi’i berpendapat pahalanya tidak sampai. Sedangkan Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad berpendapat pahalanya sampai (Imam ad-Dimasyqi, Rahmatul Ummah, hal. 53; Imam Mubarakfuri, Tuhfat al-Ahwadzi, hadits no. 605; Imam Syamsul Haq-Abadi, ‘Aun al-Ma’bud, hadits. no. 2494)

Ulama yang berpendapat pahalanya tidak sampai kepada si mati, berdalil dengan ayat :

“dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS An-Najm : 39)

Ibnu Katsir menyatakan,”Dari ayat ini, Imam Syafi’i dan para pengikutnya menyimpulkan bacaan al-Qur`an tidak akan sampai pahalanya jika dihadiahkan kepada orang yang telah mati. Sebab bacaan al-Qur`an itu bukan berasal dari perbuatan maupun usaha si mati.” (Tafsir Ibnu Katsir, IV/259).

Namun para ulama yang berpendapat pahalanya sampai, pemahamannya lain. Mereka mengatakan keumuman ayat di atas telah dikecualikan (di-takhsis) dengan berbagai dalil khusus yang menyatakan sampainya pahala ibadah/ketaatan kepada si mati (Imam Syaukani, Fathul Qadir, V/114).

Menurut Imam Syaukani dalil sahnya hadiah pahala bacaan al-Qur`an untuk orang yang sudah mati adalah sabda Nabi SAW,”Bacakanlah kepada orang-orang yang sudah meninggal di antara kamu surat Yasin” (Arab : iqra`uu ‘ala mautaakum yaasiin) (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Hakim; hadits hasan, Imam As-Suyuthi, al-Jami’ al-Shaghir, I/52).

Maksud mautaakum dalam hadits itu ialah “orang-orang yang sudah meninggal di antara kamu”, bukan “orang-orang yang hendak meninggal di antara kamu.” Demikian penegasan Imam Syaukani yang mengartikan mautaakum dalam makna hakikinya (makna sebenarnya), untuk membantah ulama seperti al-Khaththabi yang mengartikannya secara majazi (kiasan), yaitu “orang-orang yang hendak meninggal.” (Nailul Authar, hal. 776-778; Subulus Salam, II/91).

Pengasuh cenderung kepada pendapat Imam Syaukani ini, bahwa hadits itu hendaknya diartikan dalam makna hakikinya, bukan makna majazinya. Sebab sebagaimana dinyatakan oleh Imam Taqiyuddin an-Nabhani, jika suatu kata dapat diartikan secara hakiki dan majazi secara bersamaan, maka mengartikannya dalam makna hakiki adalah lebih kuat (rajih), sedang mengartikannya dalam makna majazi adalah lemah (marjuh) (asy-Syakhshiyyah al-Islamiyah, III/143).

Atas dasar itulah, menurut pengasuh, jika kita menghadiahkan pahala bacaan al-Qur`an kepada Rasulullah SAW, para imam dan ulama, atau saudara-saudara kita yang sudah meninggal, insya Allah pahalanya akan sampai kepada mereka.

Namun jika saudara-saudara kita masih hidup, hadiah pahala bacaan al-Qur`an itu tidak akan sampai. Sebab di sini berlaku mafhum mukhalafah (pengertian kebalikan) dari hadits di atas, yaitu janganlah kamu bacakan Yasin kepada orang-orang yang masih hidup di antara kamu. [ ]

Muhammad Shiddiq al-Jawi

2 Tanggapan to “MENGHADIAHKAN PAHALA BACAAN AL-QUR`AN”

  1. ustd.Muhammad Rachmat said

    KITA diperintah MENDOAKAN orang yang sudah Meninggal. Memang ada hadis, bahwa setelah mati semua amalan anak adam terputus.Tapi jika BACAAN AL QUR’AN itu termasuk DOA bagai mana ? Semua tergantung NIAT…..

    • mobile said

      Tidak bisa Ustad M. Rahmat, tidak tergantung niat saja tapi tergantung pada dalil yang membolehkan atau tidak, sampai atau tidak pahala tersebut. Jadi kalau yang mengamalkan, harus didukung dalil sedangkan yang tidak, juga harus berdasarkan dalil juga. Kemudian tidak saling menyalahkan, saling menghormati dan beribadah dengan landasan ilmu yang benar yang diyakini dan bersanad. Dan niat itu sendiri muncul dari arahan ilmu yang diamalkan. Statemant ini :
      “Namun jika saudara-saudara kita masih hidup, hadiah pahala bacaan al-Qur`an itu tidak akan sampai. Sebab di sini berlaku mafhum mukhalafah (pengertian kebalikan) dari hadits di atas, yaitu janganlah kamu bacakan Yasin kepada orang-orang yang masih hidup di antara kamu”.
      Menurut hemat kami ini belum lengkap secara pembahasan dan tentunya tidak terbatas hanya dalam bacaan surat yasin saja. Juga tidak juga bisa seenaknya mengambil hukum dengan mengatakan mafhum mukhalafah sebab pengambilan hukum dengan jalan qiyas seperti itu harus ada ‘illat hukum terlebih dahulu. Mana ‘illatnya? Kalau dikatakan pahala bacaan tidak sampai kepada orang yang masih hidup, bagaimana nasib para guru qur’an? Apakah mereka juga mendapatkan pahala ketika murid mereka membaca qur’an sedangkan mereka masih hidup? Kalau berdasarkan mafhum muhalafah diatas tentu guru-guru tersebut tidak mendapatkan pahala bacaan, hanya mendapatkan pahala mengajar saja. Ilmun yuntafa’u bihi (ilmu yang diambil manfaatnya) apakah pahala tersebut mengalir hanya ketika yang mengajar sudah tiada alias mati? Mohon pencerahannya !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: