Rahma02’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

SHALAT BISA DIQADHA`?

Posted by rahma02 pada Oktober 9, 2007

SOAL :

Apakah shalat bisa diqadha`? Saya pernah dengar shalat bisa diqadha` dan jika tidak diqadha dosa kita akan terus berjalan sampai shalat diqadha. (Nur, 08568218553)

JAWAB :

Seluruh ulama sepakat bahwa mengqadha shalat itu wajib hukumnya bagi orang yang meninggalkannya karena lupa atau tertidur, sesuai hadits Nabi SAW : ”Barangsiapa tidur meninggalkan shalat atau lupa shalat, maka hendaklah ia mengerjakan shalat itu tatkala ia teringat. Tidak ada tebusan untuknya melainkan dengan mengerjakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). (Al-Masa`il Fiqhiyah (terj.), Mahmud Yunus, hal. 38).

Adapun yang meninggalkan shalat secara sengaja hingga waktu shalat habis, jumhur (mayoritas) ulama –dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali— berpendapat dia berdosa dan wajib atasnya qadha (Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, I/146; Hasbi Ash-Shiddieqy, Koleksi Hadits Hukum, II/33).

Jadi shalat itu bisa (mungkin) diqadha, bahkan wajib hukumnya, baik karena lupa atau tertidur, atau karena unsur kesengajaan. Hanya saja, kalau karena lupa atau tertidur, dia tidaklah berdosa. Sedang kalau karena sengaja, dia telah berdosa, hingga dia mengqadha`nya.

Namun perlu diketahui, sebagian ulama memang berpendapat shalat yang ditinggalkan secara sengaja tidaklah mungkin diqadha. Inilah pendapat Ibnu Hazm (Al-Muhalla, II/335), Imam Syaukani (Nailul Authar, II/1-4), dan Ibnu Taimiyah (Al-Masa`il Fiqhiyah (terj.), Mahmud Yunus, hal. 45). Di Indonesia, pendapat ini diikuti oleh Hasbi Ash-Shiddieqy dalam bukunya Koleksi Hadits Hukum, II/33-37, dan juga oleh A. Hassan –ulama pendiri PERSIS– dalam bukunya Soal-Jawab, I/167-180 (1983). Maka dari itu, tak heran pendapat mereka ini acapkali terdengar juga di Indonesia ini.

Apa alasan ulama yang mengatakan tidak mungkin mengqadha shalat yang ditinggalkan secara sengaja? Alasan utamanya adalah karena shalat itu dikerjakan di luar batas waktunya. Padahal Allah SWT telah menetapkan batas-batas waktu shalat dengan menetapkan awal dan akhir waktu pelaksanaannya. Maka kalau dikerjakan di luar batas itu, jelas tidak boleh dan tidak sah. Demikian antara lain hujjah Ibnu Hazm. (Al-Muhalla, II/335).

Menurut pengasuh, pendapat yang lebih kuat (rajih) adalah pendapat jumhur, yakni shalat yang ditinggalkan secara sengaja itu masih dapat diqadha`, sebab dalilnya lebih kuat. Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan berkata bahwa ibunya meninggal padahal dia masih hutang puasa sebulan. Ia bertanya,”Bolehkah saya mengqadha` puasa untuk beliau?” Nabi menjawab,”Andaikan ibumu punya hutang apakah kamu juga akan membayarnya?” Orang itu menjawab,”Ya.” Nabi bersabda,”Maka hutang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar.” (Sahih Muslim, III/156).

Kata “hutang kepada Allah” (dainullah) menurut Prof. Ali Raghib dalam Ahkamush Shalat hal. 97 adalah kata umum yang mencakup segala hutang kepada Allah, termasuk shalat yang ditinggalkan secara sengaja. Maka hutang itu wajib dilunasi dengan cara mengqadha`nya. Wallahu a’lam [ ]

Muhammad Shiddiq al-Jawi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: