Rahma02’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

MENERIMA SUMBANGAN NON MUSLIM

Posted by rahma02 pada Oktober 17, 2007

Soal : Bagaimana hukumnya menerima sumbangan dari non muslim untuk disumbangkan ke saudara kita sesama muslim? (Idham, Majene)

Jawab :

Boleh hukumnya seorang muslim menerima sumbangan dari non muslim. Dalilnya adalah hadits-hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah menerima hadiah dari non muslim.

Ali bin Abi Thalib RA meriwayatkan, bahwa Kisra [Raja Persia] pernah memberi hadiah kepada Rasulullah SAW lalu beliau menerimanya. Kaisar [Raja Romawi] pernah pula memberi hadiah kepada Rasulullah SAW lalu beliau menerimanya. Para raja (al-muluuk) juga memberi hadiah kepada beliau lalu beliau menerimanya. (HR Ahmad dan At-Tirmidzi, dan dinilai hadits hasan oleh Imam At-Tirmidzi) (Imam Syaukani, Nailul Authar, hal. 1172).

Rasulullah SAW pernah menerima hadiah dari para raja non muslim. Antara lain dari Raja Dzi Yazan (HR Abu Dawud), dari Akidar pemimpin Dumatul Jandal (HR Bukhari dan Muslim), dari Farwah al-Judzamiy (HR Muslim), dan sebagainya. (Imam Syaukani, ibid.)

Selain hadits-hadits tersebut, kebolehannya juga didasarkan pada hukum umum bolehnya muslim bermuamalah dengan non muslim. Nabi SAW pernah menggadaikan baju besinya kepada seorang Yahudi. Berdasarkan hadits ini, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata,”Dalam hadits ini ada kebolehan bermuamalah dengan mereka [non muslim]…” (Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Ahkam Ahl Adz-Dzimmah, Juz I hal. 204).

Hadits-hadits ini menunjukkan bolehnya seorang muslim menerima sumbangan dari non muslim. Karena itu dibolehkan, misalnya, kita menerima sumbangan non muslim berupa uang, baju, obat-obatan, makanan, atau minuman untuk kemudian disalurkan kepada kaum muslimin yang menjadi korban bencana alam.

Namun demikian, jika sumbangan non muslim itu menjadi sarana untuk memperkokoh atau menyebarkan kekufuran mereka, atau menjadi sarana untuk mengagungkan syiar-syiar agama mereka, maka hukumnya haram (Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Ahkam Ahl Adz-Dzimmah, Juz I hal. 224). Misalnya saja sumbangan-sumbangan non muslim itu ternyata sekedar menjadi alat Kristenisasi untuk mempropagandakan agama Kristen.

Jika demikian halnya, hukumnya haram menerima sumbangan non muslim. Kaidah fikih menyebutkan, “al-wasilah ila al-haram haram” (segala perantaraan yang membawa pada yang haram, hukumnya haram juga) (Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyah, Juz III hal. 440).

Tidak dibolehkan juga menerima sumbangan non muslim untuk dimanfaatkan dalam kegiatan memakmurkan masjid (‘imaratul masjid), baik yang terkait dengan aspek fisiknya (seperti memperbaiki kerusakannya, memasang sajadah, memasangi lampu) maupun yang terkait dengan berbagai ketaatan di dalamnya (seperti shalat, dzikir, pengajian). Semua ini wajib dibiayai oleh muslim saja, tidak boleh menerima dana dari non muslim. Sebab non muslim tidak dibenarkan memakmurkan masjid sesuai firman Allah SWT (artinya) : “Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir.” (QS At-Taubah [9] : 17). [ ]

Muhammad Shiddiq al-Jawi

2 Tanggapan to “MENERIMA SUMBANGAN NON MUSLIM”

  1. Ian said

    Lalu bagaimana hukumnya meminta sumbangan di jalan raya, sedangkan jalan raya itu sendiri sebenarnya ditujukan untuk kelancaran berlalu lintas. Bukankah adanya sumbangan di jalan raya itu membuat lalu lintas terhambat?
    Pernah juga saya melihat tong yang digunakan utk menarik sumbangan tidak dipinggirkan, dibiarkan ditengah jalan tanpa penerangan yang memadai. Kalau sampai terjadi kecelakaan di jalan raya akibat penarikan sumbangan seperti itu gimana?
    Btw, yang lebih disukai Allah itu masjid yang megah atau umat-nya yang beriman sih?

  2. afird said

    Nah itulah yang menjadi permasalahan dalam sebagian besar megeri kaum muslimin. Allah mewajibkan bagi manusia untuk bekerja bagi yang sudah layak bekerja,seperti seorang suami wajib menafkahi istri-istrinya dan anak-anaknya, namun pada saat yang sama tidak ada tuntutan untuk menafkahi dengan jumlah setoran tertentu, namun yang terpenting ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bekerja menafkahi memenuhi kebutuhan keluarganya. Yang kemudian bisa jadi dari hasil usahanya ia mampu menafkahi atau ia tidak mampu menafkahi keluarganya.

    Melihat hal itu paling tidak ada hal yang bisa dilihat, pertama ia sudah berusaha bekerja tapi ia tidak berhasil memenuhi kebutuhannya, yang kedua memang mereka yang layak bekerja (seperti seorang suami)tersebut tidak berusaha sama sekali. Untuk yg ke dua ini ia telah mengabaikan perintah allah yang mewajibkan dia untuk bekerja, atau denagn kata lain ia berdosa. sedang untuk pertama ia telah lepas dari taklif (beban perintah) dari ALlah, sehingga ia tidak terkena dosa.

    lantas siapa yang harus memnhi kebutuhan hidupnya, jika ia memiliki saudara(keluarga) maka ia punnya hak untuk memperoleh bantuan dari keluarganya yang mampu. Namun jika saudaranya tidak mampu atau tidak punya saudara maka negaralah yang bertanggung jawab atas pemenuhan kebutuhan hidup mereka.

    Psda faktanya, meningkatnya jumlah pengemis sebanding dengan meningkatnya jumlah angka kemsikinan. Kenaikan angka kemiskinan serta besarnya jurang si kaya dan si miskin tidak terlepas dari konsekensi dari sistem ekonomi kapitalistik-sekuler yang diterapkan oleh sebuah negara. Jika di tariklebih mendasar merajanya jumlah pengemis karena islam tidak diterapkan sebagai way of life oleh negara. Oleh itu solusi yang tepat untuk mengurangi bahkan menghapus angka pengemisnya adalah buang jauh-jauh sistem ekonomi kpaitalistik dan kembali kepada aturan islam. wallahualam!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: