Rahma02’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Archive for the ‘Dakwah’ Category

HADITs ARBA’IN

Posted by rahma02 pada Maret 7, 2008

Hadits 1: ” Dari Amiril Mukminin, Abu Hafsh, Umar bin Khathab ra. berkata: Aku mendengar Rasul Allah saw. bersabda, “sesungguhnya diterimanya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.arangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya (akan diterima) sebagai hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang hendak dinikahinya, maka ia akan mendapati apa yang ia tuju.” (HR.Dua Imam Ahli Hadits: Abu Mughirah bin Bardawih al-Bukhari (Imam Bukhari) dan Imam Abu Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An-naisaburi (Imam Muslim) dalam kedua kitabnya yang merupakan kitab hadits paling shahih).

Iklan

Posted in Dakwah | Leave a Comment »

BOLEHKAH LAKI-LAKI MEMANDANG PEREMPUAN DAN SEBALIKNYA?

Posted by rahma02 pada Oktober 17, 2007

Pertanyaan:
Kami ingin mengetahui hukum boleh tidaknya laki-laki memandang perempuan, malah lebih khusus lagi, perempuan memandang laki-laki Sebab, kami pernah mendengar dari seorang penceramah bahwa wanita itu tidak boleh memandang laki-laki, baik dengan syahwat maupun tidak. Sang penceramah tadi mengemukakan dalil dua buah hadits.
Pertama, bahwa Nabi saw. pernah bertanya kepada putrinya, Fatimah r.a., “Apakah yang paling baik bagi wanita?” Fatimah menjawab, “janganlah ia memandang laki-laki dan jangan ada laki- laki memandang kepadanya.” Lalu Nabi saw. menciumnya seraya berkata, “Satu keturunan yang sebagiannya (keturunan dari yang lain).1
Kedua, hadits Ummu Salamah r.a., yang berkata, “Saya pernah berada di sisi Rasulullah saw. dan di sebelah beliau ada Maimunah, kemudian Ibnu Ummi Maktum datang menghadap. Peristiwa ini terjadi setelah kami diperintahkan berhijab. Lalu Nabi saw. bersabda, “Berhijablah kalian daripadanya!” Lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah dia tunanetra, sehingga tidak mengetahui kami?” Beliau menjawab, “Apakah kalian juga tuna netra?” Bukankah kalian dapat melihatnya?” (HR Abu Daud dan Tirmidzi. Beliau (Tirmidzi) berkata, “Hadits ini hasan sahih.)2
Pertanyaan saya, bagaimana mungkin wanita tidak melihat laki-laki dan laki-laki tidak melihat wanita, terlebih pada zaman kita sekarang ini? Apakah hadits-hadits tersebut sahih dan apa maksudnya?
Saya harap Ustadz tidak mengabaikan surat saya, dan saya mohon Ustadz berkenan memberikan penjelasan mengenai masalah ini sehingga dapat menerangi jalan orang-orang bingung, yang terus saja memperdebatkan masalah ini dengan tidak ada ujungnya.
Semoga Allah memberi taufik kepada Ustadz.
Jawaban:
Allah menciptakan seluruh makhluk hidup berpasang-pasangan, bahkan menciptakan alam semesta ini pun berpasang-pasangan, sebagaimana firman-Nya:
“Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasang-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” (Yasin: 36)
Baca entri selengkapnya »

Posted in Dakwah | 2 Comments »

Apa Saja yang Membawa Kepada Haram adalah Haram

Posted by rahma02 pada Oktober 17, 2007

SALAH satu prinsip yang telah diakui oleh Islam, ialah: apabila Islam telah mengharamkan sesuatu, maka wasilah dan cara apapun yang dapat membawa kepada perbuatan haram, hukumnya adalah haram.

Oleh karena itu, kalau Islam mengharamkan zina misalnya, maka semua pendahuluannya dan apa saja yang dapat membawa kepada perbuatan itu, adalah diharamkan juga. Misalnya, dengan menunjukkan perhiasan, berdua-duaan (free love), bercampur dengan bebas, foto-foto telanjang (cabul), kesopanan yang tidak teratur (immoral), nyanyian-nyanyian yang kegila-gilaan dan lain-lain.

Dari sinilah, maka para ulama ahli fiqih membuat suatu kaidah: Apa saja yang membawa kepada perbuatan haram, maka itu adalah haram.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Dakwah | 1 Comment »

MENGHADIAHKAN PAHALA BACAAN AL-QUR`AN

Posted by rahma02 pada Oktober 9, 2007

SOAL : Ustadz, bolehkah kita menghadiahkan bacaan al-Fatihah untuk Rasulullah SAW, atau untuk saudara-saudara kita baik yang sudah mati maupun yang masih hidup? (Idham, Majene, Sulsel)

JAWAB :

Ketika seseorang menghadiahkan pahala bacaan al-Qur`an kepada orang yang sudah mati, para ulama berbeda pendapat, apakah pahalanya akan sampai atau tidak. Imam Malik dan Imam Syafi’i berpendapat pahalanya tidak sampai. Sedangkan Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad berpendapat pahalanya sampai (Imam ad-Dimasyqi, Rahmatul Ummah, hal. 53; Imam Mubarakfuri, Tuhfat al-Ahwadzi, hadits no. 605; Imam Syamsul Haq-Abadi, ‘Aun al-Ma’bud, hadits. no. 2494)
Baca entri selengkapnya »

Posted in Dakwah | 3 Comments »

Hukum Pidana Islam Sebagai Penebus & Pencegah

Posted by rahma02 pada Oktober 9, 2007

Allah SWT telah menetapkan hukum-hukum uqubat (pidana, sanksi, dan pelanggaran) dalam peraturan Islam sebagai “pencegah” dan “penebus”. Sebagai pencegah, karena ia berfungsi mencegah manusia dari tindakan kriminal; dan sebagai penebus, karena ia berfungsi menebus dosa seorang muslim dari azab Allah di hari kiamat.

Keberadaan uqubat dalam Islam, yang berfungsi sebagai pencegah, telah disebutkan dalam Al-Qur’an:
Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertaqwa. (QS. al-Baqarah [2]: 179)

Baca entri selengkapnya »

Posted in Dakwah | 3 Comments »

Sanksi Dalam Islam

Posted by rahma02 pada Oktober 8, 2007

Kejahatan adalah perbuatan-perbuatan tercela (al-qabih). Sedangkan tercela adalah apa yang dicela oleh syari’ (Allah). Suatu perbuatan tidak dianggap sebagai kejahatan kecuali jika ditetapkan oleh syara’ bahwa perbuatan itu tercela. Ketika syara’ telah menetapkan bahwa perbuatan itu tercela, maka sudah pasti perbuatan itu disebut kejahatan, tanpa memandang lagi tingkat tercelanya. Artinya, tidak lagi dilihat besar kecilnya kejahatan. Syara’ telah menetapkan perbuatan tercela sebagai dosa (dzunub) yang harus dikenai sanksi. Jadi, dosa itu substansinya adalah kejahatan.

Kejahatan bukanlah hal yang fitri pada diri manusia. Kejahatan bukan pula “profesi” yang diusahakan oleh manusia. Juga bukan penyakit yang menimpa manusia. Kejahatan (jarimah) adalah tindakan melanggar peraturan, yang mengatur perbuatan-perbuatan manusia dalam hubungannya dengan Rabbnya, dengan dirinya sendiri, dan dengan manusia lainnya.

Jadi perbuatan-perbuatan yang dikenai sanksi adalah tindakan meninggalkan kewajiban (fardhu), mengerjakan perbuatan yang haram, serta menentang perintah dan melanggar larangan yang pasti dan ditetapkan oleh negara. Selain tiga hal ini, perbuatan lainnya tidak dikenakan sanksi. Ini bisa dimengerti karena hukum-hukum syara’ yang berhubungan dengan perbuatan manusia ada lima; Fardhu atau wajib, mandub yakni sunnah atau nafilah, mubah, haram yakni al-khathr, dan makruh.
Baca entri selengkapnya »

Posted in Dakwah | 1 Comment »

Batasan dalam Ketataatan Terhadap Pemimpin

Posted by rahma02 pada Oktober 8, 2007

Salah satu kewajiban seorang muslim adalah taat kepada pemimpin. Ini didasarkan pada suatu kenyataan bahwa, ketaatan merupakan sendi dasar tegaknya suatu kepemimpinan dan pemerintahan. Tanpa ketaatan dan kepercayaan kepada pemimpin, kepemimpinan dan pemerintahan tidak mungkin tegak dan berjalan sebagaimana mestinya. Jika rakyat tidak lagi mentaati pemimpinnya maka, roda pemerintahan akan lumpuh dan akan muncul fitnah di mana-mana. Atas dasar itu, ketaatan kepada pemimpin merupakan keniscayaan bagi tegak dan utuhnya suatu negara. Bahkan, dasar dari ketertiban dan keteraturan adalah ketaatan.

Rasulullah Saw selalu menekankan kepada umatnya untuk selalu taat kepada pemimpin dalam batas-batas syari’atnya. Nash-nash syara yang berbicara tentang ketaatan kepada pemimpinan jumlahnya sangat banyak. Di dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu sekalian kepada Allah dan RasulNya, serta pemimpin diantara kalian.” (Qs. an-Nisâ’ [5]: 59).

Ketaatan kepada pemimpin juga banyak disinggung di dalam sunnah. Rasulullah Saw bersabda:

Dari Ibnu ‘Umar ra dari Nabi Saw, beliau Saw bersabda: “Seorang muslim wajib mendengar dan taat (kepada pemimpin) baik dalam hal yang disukainya maupun hal yang dibencinya, kecuali bila ia diperintah untuk mengerjakan maksiyat. Apabila ia diperintah untuk mengerjakan maksiyat, maka ia tidak wajib mendengar dan taat.” [HR. Bukhari dan Muslim].
Baca entri selengkapnya »

Posted in Dakwah | Leave a Comment »

Kewajiban Berda’wah

Posted by rahma02 pada Oktober 8, 2007

Seorang penerbang warga negara Jerman berkisah, ia bekerja disebuah proyek disebuah desa kecil di Sudan, proyek tersebut jauh dari pemukiman penduduk. Disaat hari mulai senja, tiba-tiba ia didatangi oleh seorang penduduk desa dan berkata: “Hai orang asing, aku siap membantumu”

Aku menjawab: “Aku tidak membutuhkan bantuanmu”

Orang Sudan memaksanya lagi: “Engkau pasti membutuhkan bantuanku dan aku tidak akan meninggalkanmu sampai engkau menerima usulku”

Aku katakan sekali lagi: “Aku tidak membutuhkan bantuan siapapun!”

Orang Sudan terus memaksa untuk membantuku, ia akhirnya mengajakku kerumahnya. Karena ia mempunyai satu kamar tidur dirumahnya, maka ia menyuruh istrinya menginap dirumah tetangga. Ia memperlakukan layaknya seorang tamu kehormatan, semua kebutuhanku dilayaninya dengan baik.

Aku terheran-heran dan bertanya kepadanya: “Mengapa engkau melakukan semua ini?”

Orang Sudan menjawab: “Aku telah bernadzar kepada Allah untuk mengerjakan kebajikan setiap hari. Aku melihat anda sebelum matahari terbenam dan tidak seorangpun aku jumpai untuk melaksanakan nadzarku kepada Allah, yakni melakukan kebajikan setiap hari”

Aku penuh penasaran, agama apakah yang membuat orang Sudan ini berbuat seperti itu? Aku pelajari Islam dan akhirnya aku memperoleh hidayah dengan masuk Islam.

Begitulah sekelumit kisah nyata dari masuk Islamnya seorang penerbang Jerman, karena andil seorang penduduk desa terpencil di Sudan. Dari kisah itu dapat diambil hikmahnya, bahwa seorang desa-pun mampu berda’wah sesuai kadar kemampuan-nya.
Baca entri selengkapnya »

Posted in Dakwah | Leave a Comment »